Postingan

Menampilkan postingan dengan label aku

Merintis Pengajian Tafsir Al Qur’an

Gambar
  Gedung Umat Islam Solo S ebagai seorang mubaligh yang berprofesi sebagai pedagang batu permata, Ustadz Abdullah Thufail Saputro berkesempatan untuk keliling Indonesia, kecuali Papua. Berkat safari bisnis yang dilakoninya, Ustadz Abdullah Thufail Saputro mampu melihat secara langsung kondisi umat Islam Indonesia yang kurang memahami Al Qur’an. Ia juga merasa prihatin tatkala menjumpai perpecahan antar umat Islam dan maraknya praktik keagamaan yang menyimpang dari syariat Islam. Di kemudian hari, ia menyimpulkan bahwa agama Islam memang banyak dianut oleh masyarakat Indonesia. Akan tetapi, secara substansi mereka jauh dari ajaran Islam yang sebenarnya dan lebih terpengaruh oleh budaya setempat yang berhubungan dengan praktik peribadatan yang mengandung syirik.

Melakoni Safari Bisnis, Dakwah, dan Menetap di Bali

Gambar
Batu permata peninggalan Ustadz Abdullah Berkeliling Indonesia telah menjadi rutinitas Abdullah di masa mudanya. Ia berkeliling Indonesia untuk menjalankan bisnis berjualan batu permata. Perjalanan bisnisnya telah menyisir kota-kota besar di pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara dan Bali. Sampailah di kemudian hari, safari bisnis batu permata ini membawanya menuju Pulau Bali. Pulau ini merupakan tempat yang paling lama disinggahi oleh Abdullah saat melakoni safari bisnisnya. Bahkan, Abdullah   memiliki sebuah toko batu permata yang berada di Kota Denpasar, Bali.

Siapa Sih Aku?

Gambar
Dengan menyebut nama Tuhan yang Maha Esa, Allah SWT, saya mengawali tulisan biodata narasi ini. Abdul Wahid . Nama yang bagus nan menawan ini disematkan oleh pakdhe saya yang pada saat itu berprofesi sebagai guru agama Islam di sebuah sekolah dasar negeri (SDN). Awalnya beliau memberi nama saya Abdurahman Wahid. Akan tetapi, nama ini oleh Bapak saya dipersingkat menjadi Abdul Wahid. Menurut Bapak saya, bila putra pertamanya ini di beri nama Abdurrahman Wahid, di rasa akan memberatkan diri saya. Bapak beralasan bahwa bila nama itu tetap disematkan kepada diri saya, maka secara tidak langsung saya dituntut untuk lebih baik atau minimal sama dengan sosok seorang ulama kharismatik bernama Abdurrahman Wahid. Hal yang melatarbelakangi pakdhe saya memberikan nama Abdurrahman Wahid kepada saya karena beliau adalah seorang “kyai NU” di desanya dan juga seorang pengagum sosok Gus Dur.