Postingan

Menampilkan postingan dengan label Cerpen

Malem Siji Suro

Gambar
Karya: Abdul Wahid Ketika cahaya senja mulai hiasi langit kota Solo di sebelah barat, aku baru benar-benar merasa menginjakkan kaki di kota Solo. Sudah 10 tahun aku meninggalkan kota ini untuk mengais rejeki di kota penuh kemacetan, Jakarta. “Kota Solo memang ngangeni,” batinku.

Malaikat Cinta yang Kuberi Nama Ibu

Gambar
Karya: Abdul Wahid Di dalam diam aku mengagumimu. Keteduhan hati yang terlihat di balik wajah yang disinari oleh temaram rembulan. Indah. Sungguh sangat indah. Seindah bulan purnama. Ketika diam adalah sebuah keteduhan. Aku ingin hadir dalam diammu. Hadir untuk turut berteduh di bawah relung-relung hatimu yang penuh akan keteduhan. Keteduhan hati seorang ibu. Karena d i dalam diam aku mengagumimu. Ibu. Pagi ini. Di desaku. Embun pagi masih bertebaran di dedaunan. Kabut tipis membawa aroma dingin menusuk tulang. Pelan-pelan fajar menghilang. Tergantikan oleh mentari yang masih malu untuk menampakkan diri. Burung-burung mulai mengepakkan sayap-sayapnya. Berterbangan mengiringi langkah pak Tani menuju sawah.

Analisis cerpen Basa-basi Karya Jujur Prananto dengan Teori Sastra Profetik

Gambar
Pendahuluan Pada hakikatnya sastra adalah karya seni dalam bentuk bahasa. Sastra berisi tentang ungkapan ekspresi, kegelisahan, pemikiran, perenungan yang dihasilkan dari refleksi manusia terhadap keadaan dan realita kehidupan. Selain itu, sastra adalah bahasa kebebasan. Yakni bahasa yang mengandung nilai estetika (keindahan). Karya sastra sebagai karya seni adalah bagian dari unsur-unsur kebudayaan yang bersumber pada rasa, terutama rasa keindahan yang ada pada diri manusia. Karena sastra adalah media bagi penulis untuk menyampaikan pesan kritis kepada pembaca dengan bahasa yang estetik (indah). Sastra Profetik muncul karena manusia kembali pada dirinya dan Tuhannya. Sastra Profetik harus memiliki relevansi keagamaan (sastra sufi) dengan hal-hal yang bersifat keduniaan.

Siapa Sih Aku?

Gambar
Dengan menyebut nama Tuhan yang Maha Esa, Allah SWT, saya mengawali tulisan biodata narasi ini. Abdul Wahid . Nama yang bagus nan menawan ini disematkan oleh pakdhe saya yang pada saat itu berprofesi sebagai guru agama Islam di sebuah sekolah dasar negeri (SDN). Awalnya beliau memberi nama saya Abdurahman Wahid. Akan tetapi, nama ini oleh Bapak saya dipersingkat menjadi Abdul Wahid. Menurut Bapak saya, bila putra pertamanya ini di beri nama Abdurrahman Wahid, di rasa akan memberatkan diri saya. Bapak beralasan bahwa bila nama itu tetap disematkan kepada diri saya, maka secara tidak langsung saya dituntut untuk lebih baik atau minimal sama dengan sosok seorang ulama kharismatik bernama Abdurrahman Wahid. Hal yang melatarbelakangi pakdhe saya memberikan nama Abdurrahman Wahid kepada saya karena beliau adalah seorang “kyai NU” di desanya dan juga seorang pengagum sosok Gus Dur.

Balada Pensil yang Tertukar

Gambar
Karya: Abdul Wahid “Bid, bangun Bid. Sudah jam 8 lho,” kata Widi membangunkanku. “Apa? Sudah jam 8? Duh, malah ketiduran. Padahal aku jam setengah 9 ada ujian EAP,” teriakku terkaget. Aku langsung menuju kamar mandi. Hanya sempat membasuh muka dan gosok gigi. Tak sempat untuk mandi. Padahal pagi tadi aku sudah bangun jam 4. Ikut sholat shubuh berjamaah pula. Seusai sholat Shubuh mataku tak bisa diajak bersahabat. Dia memilih untuk terpejam dan aku tak kuasa menahannya.

Secangkir Kopi Persahabatan

Gambar
Karya: Abdul Wahid Mobil Kijang berwarna hitam melaju kencang dari arah utara. Suara berderit akibat gesekan ban dengan aspal terdengar bagaikan teriakan menyambut malaikat pencabut nyawa. Mobil Kijang menyambar sebuah sepeda motor yang tengah berusaha menyeberang di tengah jalan. Aroma bensin menyeruak disekitar lokasi. Darah berceceran di tengah jalan. Seorang lelaki pengendara sepeda motor terpental sejauh 20 meter dari lokasi tabrakan. Orang-orang yang sedang berada di pinggir jalan langsung berkerumun. Mereka bergegas datang namun tak berani menolong. Mereka hanya termenung melihat seorang pengendara motor yang berlumuran darah sedang menjerit kesakitan di tengah jalan. “Aarg, tolong-tolong!” “Aa.. ayo pak, kita too.. tolong masnya itu,” kata seorang pejalan kaki dengan gugup.

Bapak, Teladan Keduaku setelah Nabi Muhammad SAW

Gambar
Teladanku, ia bersama saudara kembarnya terlahir di dunia pada 11 Februari 1964. Pak e dan Mak e nya adalah seorang pribumi yang berprofesi sebagai pegiat seni pertunjukan Ketoprak. Mereka melakoni usaha ini dengan membangun sebuah gedung Ketoprak yang mampu menghibur masyarakat yang tinggal disekitarnya. Hampir tiap akhir pekan ramai sangat masyarakat yang berbaris membeli tiket masuk untuk sekadar melihat pertunjukan Ketoprak. Kini, walau sudah tak terurus, gedung Ketoprak berwarna hijau itu masih tetap berdiri kokoh ditepian hutan karet dekat terminal Batujamus. Ia menjadi saksi bisu perjuangan Pak e dan Mak e mengais pundi-pundi rezeki dan membentangkan lahan sawah hingga akhirnya gedung Ketoprak itu ditutup dengan alasan yang tak masuk akal.

Pertemuan Terakhir

Gambar
Karya: Abdul Wahid Mobil Kijang berwarna hitam melaju kencang dari arah utara. Suara rem akibat gesekan ban dengan aspal terdengar bagaikan teriakan maut yang menyambut kedatangan malaikat pencabut nyawa. Mobil Kijang menyambar sebuah sepeda motor yang tengah berusaha menyeberang di tengah jalan. Aroma bensin menyeruak disekitar lokasi. Darah berceceran di tengah jalan. Seorang lelaki pengendara sepeda motor terpental sejauh 20 meter dari lokasi tabrakan. Orang-orang yang sedang berada di parkiran langsung berkerumun. Mereka bergegas datang namun tak menolong. Mereka hanya termenung melihat seorang pengendara motor yang berlumuran darah sedang mengaduh kesakitan di tengah jalan.

Mendadak Menjadi Pendakwah

Gambar
Cerpen karya mustaqim      Sahabat muda, ini adalah salah satu kisah yang nyata, dan perjuangan di saat dia melakukan sesuatu yang sangat luar biasa itu, bisa kita jadikan sebagai contoh untuk diri kita, yaitu merubah diri menjadi lebih baik demi tegaknya agama islam. Saya buat kisah ini terutama bagi seorang yang ingin menjadi dai, dan orang yang sulit dalam berbicara dihadapan orang banyak. Sebut saja namanya syaifullah, dia tidak pernah menyangka bahwa dirinya bisa seeksis ini dalam berdakwah. Dulu dia bercerita buanyak kepadaku tentang dirinya, oleh karena itu saya mewakili untuk sekedar membagi ilmu yang telah dia alami di masa lalunya. Mungkin memperbaiki diri adalah salah satu kata-kata yang harus dia tumbuhkan dalam dirinya saat itu. Dia adalah seorang yang sangat pendiam, kuper, kurang pengalaman, sangat kurang ilmu pengetahuan, dan juga sangat kurang sekali ilmu agama. Dia mau bicara aja sulit, apa lagi mau berinteraksi sama orang lain, astagfirullah suli...